Mi Hokkien Singapura, Antara Melayu dan Cina

Mi Hokkien Singapura, Antara Melayu dan Cina

Jakarta: Dari namanya saja tersurat bahwa masakan ini membawa sejarah bangsa Cina. Memang, pembawanya adalah imigran dari propinsi Fujian, Cina yang mencari kehidupan baru di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Singapura dan Malaysia.

 

Di Singapura, rasa leluhur ini bertemu dengan budaya dari salah satu ras mayoritas yang mendiami negeri mungil ini yaitu Melayu. Jadilah mi hokkien udang dengan sambal belacan. Sambal belacan tak ada dalam sejarah masakan Cina, tapi rasa pedas dan agak manis dari fermentasi udang ini bisa menyatu dengan aroma kuat seafood dalam mi hokkien. 

 

Pendiri jejaring kuliner Singapura Makansutra, KF Seetoh menuturkan bahwa mi hokkien adalah salah satu jajanan jalanan yang populer di negeri Singa tersebut. “Di Malaysia juga ada, sama-sama digoreng,” kata dia dalam acara demo masak di Eat & Eat, Gandaria City, Jakarta, Kamis, 14 Maret 2013.

 

Ada dua jenis mi yang digunakan, mi kuning (mi telor) dan bihun. Mi kuning yang sudah kaya tekstur, berfungsi untuk membuat kenyang, adapun bihun dipilih karena sifatnya yang mudah menyerap kaldu. Agak aneh memang untuk mi goreng memakai kaldu.

 

Dengan judul mi goreng, maka kaldu ditambahkan secara bertahap hingga mi tidak begitu kering. Seetoh menambahkan kecambah sebagai salah satu campuran. “Rasa kecambah akan memberikan efek manis dalam mi,” kata dia.

 

Kaldu mi hokkien adalah sumber rasa. Di dalamnya ada kepala udang, ebi, tulang ayam dan bawang putih. “Rata-rata direbus hingga empat jam,” ujar Seetoh. Selain kaldu, ada bawang putih yang ditambahkan terakhir. Seetoh menuturkan, biasanya penjual mi akan berkacak pinggang sembari menunggu proses peresapan kaldu dan bawang dalam penggorengan tertutup. Jika tutup penggorengan dibuka, aroma bawang sudah menguar, artinya mi siap disajikan.

 

Mi pun muncul dengan irisan udang, cumi, daun kucai, jeruk nipis dan sambal belacan. “Kucai memberikan rasa segar di antara rasa seafood yang berat,” ujar Seetoh. Untuk makan, semua topping harus dicampur. Hasilnya campuran manis, gurih, dan pedas beradu kuat. Rasa udang menjadi penguasa, sebab dia muncul dalam kaldu, dalam belacan dan tentunya dalam topping. Memakannya cukup mengenyangkan, karena bihun banyak menyerap kaldu dan mi kuning yang kaya telur, ditambah irisan topping seafood. Segar untuk dinikmati di hari yang penat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s