Nyepi,Bali Seperti Pulau Mati

bl

 

DENPASAR–Situasi di seantero Pulau Bali yang dihuni 3,8 juta jiwa dan didatangi ribuan wisatawan itu tampak lengang saat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1935, Selasa (12/3/2013).

Pada saat umat Hindu “mengurung diri” di rumahnya masing-masing, Denpasar dan beberapa wilayah lain yang biasanya hiruk-pikuk oleh berbagai aktivitas serasa seperti kota mati.

Di Hari Raya Nyepi, umat Hindu pantang melakukan empat aktivitas selama 24 jam penuh terhitung mulai pukul 06.00 WITA atau pada saat matahari terbit.

Empat pantangan yang dimaksud dengan Tapa Brata Penyepian itu adalah amati karya (tidak bekerja dan aktivitas lainnya), amati geni (tidak menyalakan api), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Pada saat itu hanya suara alam yang terdengar. Kompleks Perumahan Monang-Maning, Denpasar, yang dihuni sekitar 2.500 keluarga juga tercipta situasi toleransi. Tidak semua penghuni perumahan padat penduduk itu beragama Hindu.

bl3

 

Sepanjang jalan dan gang-gang tampak sepi, kecuali hanya beberapa pecalang (petugas keamanan desa adat) yang berjaga di ujung gang dan perempatan jalan.

Pemandangan serupa juga hampir terjadi di seluruh pelosok pedesaan di Pulau Dewata. Wisatawan mancanegara yang sengaja berlibur di Bali, bertepatan dengan umat Hindu melaksanakan tapa brata penyepian, hanya diperkenankan melakukan aktivitas di dalam kawasan hotel.

Demikian pula umat non-Hindu yang selama ini hidup rukun dan berdampingan satu sama lain pada hari yang “diistimewakan” itu sangat menghormati umat Hindu melaksanakan Tapa Brata Penyepian.

Nyepi kali ini merupakan yang ke-15 kalinya Bandara Ngurah Rai dan seluruh pintu masuk ke Pulau Dewata sejak 1999 ditutup sementara, sebagaimana Surat Keputusan Dirjen Perhubungan, Kementerian Perhubungan Nomor AU 126961/DAU/7961/99 tertanggal 1 September 1999 dan diperkuat surat edaran Gubernur Bali Made Mangku Pastika.

Keenam pelabuhan laut ke luar-masuk Bali yang juga ditutup sementara meliputi Pelabuhan Benoa (Denpasar), Pelabuhan Celukan Bawang (Buleleng), Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk (Jembrana) dan Pelabuhan Penyeberangan Padangbai (Karangasem).

Sumber : Antrnws

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s